Langsung ke konten utama

Belajar


Malam ini aku menghadiri meeting pertama pembelajaran persiapan IELTS. Dari meeting itu aku sadar rupanya aku punya banyak sekali kekurangan dalam bahasa inggris. Soo, aku butuh belajar lebih dibanding yang lain, itu yang aku pikirkan. Setelah itu aku langsung menghubungi tutornya untuk meminta bimbingan dan rekomendasi yang dapat membantu aku dalam belajar bahasa inggris. 

Dari kejadian inj aku sadar, kalau growth mindset itu penting banget. Mungkin kalau aku belum baca buku tentang fix mindset dan growth mindset dan memahaminya bisa jadi aku malah langsung berhenti karena berasa tidak mampu. 

Kita pasti bakal dihadapi dengan banyak rintangan dalam hidup. Kalau kita bisa melewatinya maka kita sudah menaiki level kita menjadi lebih tinggi lagi. Tapi sayang, tidak semua orang bisa melewatinya. Kadang ada yang terjebak dengan batasan yang mereka buat untuk diri mereka sendiri, seperti merasa "tidak mampu" "Tidak berbakat" Dan lain lain. 

Jadi, jangan buat batasan untuk dirimu menjadi lebih tinggi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Good and Exploited

Aku tidak tahu kenapa, semakin dewasa justru aku merasa semakin sulit untuk menjadi pribadi yang tulus dalam berbuat baik. Mungkin ini akibat dari pengalaman-pengalaman yang selama ini aku lalui—pengalaman yang tanpa kusadari perlahan membentuk cara pandangku. Pengalaman yang membuatku terbiasa menaruh curiga, mengajarkanku untuk berpikir bahwa setiap kebaikan harus ada timbal baliknya, dan membuatku sulit mempercayai niat baik orang lain. Dari semua itu, aku akhirnya sadar, bahwa semakin banyak pelajaran hidup yang aku dapat, semakin berat pula rasanya untuk berbuat baik dengan ikhlas. Aku jadi terbiasa berpikir bahwa kebaikan itu harus dihargai, harus dianggap, dan pantas mendapatkan balasan. Namun waktu berjalan, dan perlahan aku mulai memahami, bahwa ternyata dimanfaatkan dan ikhlas adalah dua hal yang sangat berbeda. Berbuat baik seharusnya tidak lahir dari harapan akan imbalan atau pengakuan dari manusia. Berbuat baiklah untuk dirimu sendiri. Berbuat baiklah karena ka...

The door is open

Kebencian ini ada karena sebuah ketidaktahuan. Ketidaktahuan akan sebuah kebenaran yang tidak pernah menemukan momen untuk diceritakan. Kebencian pada sang ayah karena karena berbeda keinginan saat pemilihan jurusan, aku tahu ayah pasti pingin yang terbaik, tapi dengan jiwa masa mudaku yang penuh keegoisan itu, aku menyalahkan ayah akan arahan dan pilihannya. Kebencian itu berlanjut hingga masa perkuliahan. Menyebabkan aku menjadi keras hati untuk mendengar arahan ayah. Bahkan disaat aku memilih untuk berdamai dengan ayah dan berusaha melihat dari sudut pandang ayah, namun tetap terdapat perasaan benci walaupun sedikit. aku tidak tahu cara menyelesaikannya. Selama 4 tahun perkuliahan aku lalui dengan perasaan itu yang masih belum bisa hilang. Malam ini setelah semua perjuangan 4 tahunku telah usai. Setelah aku telah di sahkan untuk menjadi pelari baru pada level yang baru. Aku mendapatkan kuncinyaa. Kunci dari sebuah rasa benci yang aku rasakan selama 4  tahun ini. Setelah aku masu...

Sisi Lain 98

Tahun 1998 bukan sekadar angka dalam penanggalan Masehi; ia menjadi noda kelam dalam sejarah kemanusiaan di Tanah Air. Ketika seseorang merasa gagal menggapai keberhasilan dengan kemampuannya sendiri, ia seringkali mencari kambing hitam—itulah yang terjadi di tahun itu. Dalam krisis moneter, terlalu banyak orang yang menyalurkan amarah dan frustrasinya pada sesama warga keturunan etnis tertentu. Bukan sekadar menyalahkan, mereka berubah bagaikan binatang buas: membunuh, memperkosa, menganiaya tanpa belas kasihan. Ironisnya, sebagian bahkan bersedia dibayar untuk melakukan kekejian tersebut. Tidaklah mengherankan jika saya meyakini bahwa peristiwa itu ditunggangi oleh pihak-pihak berkepentingan, mereka yang berharap meraup keuntungan besar dari kekacauan. Satu hal yang pasti: nilai-nilai kemanusiaan benar-benar terjungkal, seolah seseorang lupa akan martabatnya sendiri di tengah gelombang kebrutalan tahun 1998.