Langsung ke konten utama

The door is open

Kebencian ini ada karena sebuah ketidaktahuan. Ketidaktahuan akan sebuah kebenaran yang tidak pernah menemukan momen untuk diceritakan. Kebencian pada sang ayah karena karena berbeda keinginan saat pemilihan jurusan, aku tahu ayah pasti pingin yang terbaik, tapi dengan jiwa masa mudaku yang penuh keegoisan itu, aku menyalahkan ayah akan arahan dan pilihannya.

Kebencian itu berlanjut hingga masa perkuliahan. Menyebabkan aku menjadi keras hati untuk mendengar arahan ayah. Bahkan disaat aku memilih untuk berdamai dengan ayah dan berusaha melihat dari sudut pandang ayah, namun tetap terdapat perasaan benci walaupun sedikit. aku tidak tahu cara menyelesaikannya. Selama 4 tahun perkuliahan aku lalui dengan perasaan itu yang masih belum bisa hilang.

Malam ini setelah semua perjuangan 4 tahunku telah usai. Setelah aku telah di sahkan untuk menjadi pelari baru pada level yang baru. Aku mendapatkan kuncinyaa. Kunci dari sebuah rasa benci yang aku rasakan selama 4  tahun ini. Setelah aku masuk kuliah dengan jurusan yang tidak sesuai dengan keinginan Ayah. Ayah menjadi marah, dan marah hingga ayah berada di satu titik yang membuat ayah sadar bahwa "Sisakan ruang untuk takdir Allah bekerja. Kita boleh merencanakan, kita boleh ikhtiar, namun Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untuk ciptaannya". Malam ini pintu terakhir itu terbuka dan memahamkan aku akan solusi dari permasalahan yang aku jalani.

Banyak pelajaran yang aku dapat pada malam ini. Bahwa menjadi dewasa bukan mengharuskan kita menjadi orang yang perfek, yang harus bisa dan paham dalam semua hal, tapi menjadi dewasa membentuk kita untuk menjadi orang yang selalu dapat belajar dari kesalahan dan menjadi sadar. Selain itu malam ini juga aku diajarkan sebagai anak bahwa, jangan berprasangka buruk terhadap siapapun, karena kita tidak tahu seperti apa permasalahan yang tidak diceritakan ke kita.

Pelajaran terakhir adalah bahwa 

"Selalu sisakan ruang untuk rencana Allah dalam setiap rencana kita. Karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk ciptaaanya"

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Good and Exploited

Aku tidak tahu kenapa, semakin dewasa justru aku merasa semakin sulit untuk menjadi pribadi yang tulus dalam berbuat baik. Mungkin ini akibat dari pengalaman-pengalaman yang selama ini aku lalui—pengalaman yang tanpa kusadari perlahan membentuk cara pandangku. Pengalaman yang membuatku terbiasa menaruh curiga, mengajarkanku untuk berpikir bahwa setiap kebaikan harus ada timbal baliknya, dan membuatku sulit mempercayai niat baik orang lain. Dari semua itu, aku akhirnya sadar, bahwa semakin banyak pelajaran hidup yang aku dapat, semakin berat pula rasanya untuk berbuat baik dengan ikhlas. Aku jadi terbiasa berpikir bahwa kebaikan itu harus dihargai, harus dianggap, dan pantas mendapatkan balasan. Namun waktu berjalan, dan perlahan aku mulai memahami, bahwa ternyata dimanfaatkan dan ikhlas adalah dua hal yang sangat berbeda. Berbuat baik seharusnya tidak lahir dari harapan akan imbalan atau pengakuan dari manusia. Berbuat baiklah untuk dirimu sendiri. Berbuat baiklah karena ka...

Sisi Lain 98

Tahun 1998 bukan sekadar angka dalam penanggalan Masehi; ia menjadi noda kelam dalam sejarah kemanusiaan di Tanah Air. Ketika seseorang merasa gagal menggapai keberhasilan dengan kemampuannya sendiri, ia seringkali mencari kambing hitam—itulah yang terjadi di tahun itu. Dalam krisis moneter, terlalu banyak orang yang menyalurkan amarah dan frustrasinya pada sesama warga keturunan etnis tertentu. Bukan sekadar menyalahkan, mereka berubah bagaikan binatang buas: membunuh, memperkosa, menganiaya tanpa belas kasihan. Ironisnya, sebagian bahkan bersedia dibayar untuk melakukan kekejian tersebut. Tidaklah mengherankan jika saya meyakini bahwa peristiwa itu ditunggangi oleh pihak-pihak berkepentingan, mereka yang berharap meraup keuntungan besar dari kekacauan. Satu hal yang pasti: nilai-nilai kemanusiaan benar-benar terjungkal, seolah seseorang lupa akan martabatnya sendiri di tengah gelombang kebrutalan tahun 1998.