Langsung ke konten utama

Good and Exploited

Aku tidak tahu kenapa, semakin dewasa justru aku merasa semakin sulit untuk menjadi pribadi yang tulus dalam berbuat baik. Mungkin ini akibat dari pengalaman-pengalaman yang selama ini aku lalui—pengalaman yang tanpa kusadari perlahan membentuk cara pandangku. Pengalaman yang membuatku terbiasa menaruh curiga, mengajarkanku untuk berpikir bahwa setiap kebaikan harus ada timbal baliknya, dan membuatku sulit mempercayai niat baik orang lain.

Dari semua itu, aku akhirnya sadar, bahwa semakin banyak pelajaran hidup yang aku dapat, semakin berat pula rasanya untuk berbuat baik dengan ikhlas. Aku jadi terbiasa berpikir bahwa kebaikan itu harus dihargai, harus dianggap, dan pantas mendapatkan balasan. Namun waktu berjalan, dan perlahan aku mulai memahami, bahwa ternyata dimanfaatkan dan ikhlas adalah dua hal yang sangat berbeda.

Berbuat baik seharusnya tidak lahir dari harapan akan imbalan atau pengakuan dari manusia. Berbuat baiklah untuk dirimu sendiri. Berbuat baiklah karena kamu ingin bahagia, karena kamu ingin jadi pribadi yang lebih bernilai di hadapan Tuhan, dan di tengah sesama manusia. Berbuat baiklah tanpa memandang siapa yang menerima, tanpa hitung-hitungan, dan tanpa mengharapkan apapun kembali.

Perjalanan hidupku, yang tak jarang membuatku merasa dimanfaatkan dan dipermainkan oleh orang-orang yang aku anggap baik, justru menyadarkan aku pada satu hal: aku belum benar-benar ikhlas. Ketika aku kecewa karena kebaikanku tidak dihargai, itu tandanya aku masih berharap. Ketika aku marah karena perbuatanku tidak dibalas, itu tandanya aku masih menaruh harap pada manusia.

Hingga akhirnya aku belajar, bahwa berbuat baik bukan soal dihargai atau tidak, bukan soal dibalas atau diabaikan. Justru ketika kebaikanmu tak lagi dianggap istimewa, tak diingat, dan tak dibalas, kamu tidak akan merasa kecewa, karena kamu memang tak pernah menaruh harapan di sana. Dan jika pada akhirnya kebaikanmu mendapat balasan, kamu hanya akan merasa bersyukur, bukan bangga atau besar kepala. Bahkan mungkin, balasan itu akan membuatmu ingin terus berbuat baik, lagi dan lagi, tanpa pamrih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The door is open

Kebencian ini ada karena sebuah ketidaktahuan. Ketidaktahuan akan sebuah kebenaran yang tidak pernah menemukan momen untuk diceritakan. Kebencian pada sang ayah karena karena berbeda keinginan saat pemilihan jurusan, aku tahu ayah pasti pingin yang terbaik, tapi dengan jiwa masa mudaku yang penuh keegoisan itu, aku menyalahkan ayah akan arahan dan pilihannya. Kebencian itu berlanjut hingga masa perkuliahan. Menyebabkan aku menjadi keras hati untuk mendengar arahan ayah. Bahkan disaat aku memilih untuk berdamai dengan ayah dan berusaha melihat dari sudut pandang ayah, namun tetap terdapat perasaan benci walaupun sedikit. aku tidak tahu cara menyelesaikannya. Selama 4 tahun perkuliahan aku lalui dengan perasaan itu yang masih belum bisa hilang. Malam ini setelah semua perjuangan 4 tahunku telah usai. Setelah aku telah di sahkan untuk menjadi pelari baru pada level yang baru. Aku mendapatkan kuncinyaa. Kunci dari sebuah rasa benci yang aku rasakan selama 4  tahun ini. Setelah aku masu...

Sisi Lain 98

Tahun 1998 bukan sekadar angka dalam penanggalan Masehi; ia menjadi noda kelam dalam sejarah kemanusiaan di Tanah Air. Ketika seseorang merasa gagal menggapai keberhasilan dengan kemampuannya sendiri, ia seringkali mencari kambing hitam—itulah yang terjadi di tahun itu. Dalam krisis moneter, terlalu banyak orang yang menyalurkan amarah dan frustrasinya pada sesama warga keturunan etnis tertentu. Bukan sekadar menyalahkan, mereka berubah bagaikan binatang buas: membunuh, memperkosa, menganiaya tanpa belas kasihan. Ironisnya, sebagian bahkan bersedia dibayar untuk melakukan kekejian tersebut. Tidaklah mengherankan jika saya meyakini bahwa peristiwa itu ditunggangi oleh pihak-pihak berkepentingan, mereka yang berharap meraup keuntungan besar dari kekacauan. Satu hal yang pasti: nilai-nilai kemanusiaan benar-benar terjungkal, seolah seseorang lupa akan martabatnya sendiri di tengah gelombang kebrutalan tahun 1998.