Tahun 1998 bukan sekadar angka dalam penanggalan Masehi; ia menjadi noda kelam dalam sejarah kemanusiaan di Tanah Air. Ketika seseorang merasa gagal menggapai keberhasilan dengan kemampuannya sendiri, ia seringkali mencari kambing hitam—itulah yang terjadi di tahun itu. Dalam krisis moneter, terlalu banyak orang yang menyalurkan amarah dan frustrasinya pada sesama warga keturunan etnis tertentu. Bukan sekadar menyalahkan, mereka berubah bagaikan binatang buas: membunuh, memperkosa, menganiaya tanpa belas kasihan. Ironisnya, sebagian bahkan bersedia dibayar untuk melakukan kekejian tersebut. Tidaklah mengherankan jika saya meyakini bahwa peristiwa itu ditunggangi oleh pihak-pihak berkepentingan, mereka yang berharap meraup keuntungan besar dari kekacauan. Satu hal yang pasti: nilai-nilai kemanusiaan benar-benar terjungkal, seolah seseorang lupa akan martabatnya sendiri di tengah gelombang kebrutalan tahun 1998.
Aku tidak tahu kenapa, semakin dewasa justru aku merasa semakin sulit untuk menjadi pribadi yang tulus dalam berbuat baik. Mungkin ini akibat dari pengalaman-pengalaman yang selama ini aku lalui—pengalaman yang tanpa kusadari perlahan membentuk cara pandangku. Pengalaman yang membuatku terbiasa menaruh curiga, mengajarkanku untuk berpikir bahwa setiap kebaikan harus ada timbal baliknya, dan membuatku sulit mempercayai niat baik orang lain. Dari semua itu, aku akhirnya sadar, bahwa semakin banyak pelajaran hidup yang aku dapat, semakin berat pula rasanya untuk berbuat baik dengan ikhlas. Aku jadi terbiasa berpikir bahwa kebaikan itu harus dihargai, harus dianggap, dan pantas mendapatkan balasan. Namun waktu berjalan, dan perlahan aku mulai memahami, bahwa ternyata dimanfaatkan dan ikhlas adalah dua hal yang sangat berbeda. Berbuat baik seharusnya tidak lahir dari harapan akan imbalan atau pengakuan dari manusia. Berbuat baiklah untuk dirimu sendiri. Berbuat baiklah karena ka...